MEMBENTUK AGEN MEMBELAJAR UNTUK SISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS PADA SEKOLAH INKLUSI

6 Desember 2017
Comments: 0
6 Desember 2017, Comments: 0

*Zakki Fitroni, M.Pd.

Pendahuluan

Menangani Anak Berkebutuhan Khusus dalam pembelajaran diperlukan cara dan strategi khusus. Bagaimana membuat mereka bisa bersosialisasi dengan temannya yang lain, bisa belajar tentang kecakapan hidup, dan nyaman berada dikelas yang sama dengan teman-teman lain seusianya. Bukannya memisahkan dan mengelompokkan mereka diluar teman-teman sebaya, dengan alasan karena mereka berbeda atau yang seringkali disebut sebagai sekolah inklusif.

Menyamakan dan membaurkan mereka dengan siswa lain, bukan berarti akan medapat “perlakuan sama” dalam semua hal. Tetapi karena mereka berkebutuhan khusus, mau tidak mau ada beberapa perlakuan yang memang menuntut lebih daripada siswa normal tanpa membuat mereka merasa terasing. Sebuah perlakuan yang bukan hanya didapatkan dari guru saja, melainkan juga dari teman-temannya yang lain, dan orang tuanya.

Sejalan dengan hal tersebut, ditegaskan dalam Pasal 1 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 70 Tahun 2009 yang menyebutkan bahwa pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.

Dalam memenuhi hak pendidikan anak berkebutuhan khusus, pendidikan saat ini memang diarahkan menuju pendidikan inklusi sebagai wadah ideal yang diharapkan dapat mengakomodir pendidikan bagi semua, Sehingga hak mereka dapat dipenuhi yaitu untuk memperoleh pendidikan layaknya seperti anak yang lain. Pendidikan atau sekolah inklusi bukan sebuah sekolah yang hanya diperuntukkan bagi siswa yang memiliki kebutuhan khusus saja, melainkan sekolah yang memberikan layanan efektif bagi semua anak termasuk siswa normal. Dalam sekolah inklusi semua anak dapat memasukinya, kebutuhan setiap siswa diakomodir dan dipenuhi, bukan hanya sekedar ditolerir.

Beberapa waktu lalu dunia pendidikan sempat digemparkan dengan sebuah video yang sempat viral. Seorang mahasiswa berkebutuhan khusus mendapatkan bullying oleh temannya yang lain, tanpa ada rasa kasihan beberapa orang terlihat memberikan perlakuan yang kurang pantas. Sedangkan yang lain melihat dengan tertawa dan menjadikannya sebagai tontonan tanpa ada seorangpun yang mencegah atau melakukan pembelaan. Bayangkan saja jika hal ini bisa terjadi di lingkungan kampus, yang notabene berisi orang-orang yang seharusnya sudah harus berfikir dengan mempertimbangkan norma dan etika. Bukan tidak mungkin kasus-kasus yang sama bisa terjadi di tingkat sekolah dasar, SMP atau SMA.

Menghindari kasus serupa, maka dalam pendidikan inklusi objek utama bukan hanya mereka yang dikatakan sebagai Anak Berkebutuhan Khusus. Tetapi penyadaran untuk memperlakukan mereka secara tepat juga harus dimulai dari elemen yang ada disekitar mereka, mulai dari guru yang dibekali dengan pengetahuan dan keahlian khusus, orang tua yang selalu memberikan penguatan ketika di rumah, dan yang paling penting adalah teman sekelas yang memiliki interaksi cukup lama di sekolah.

Peran siswa normal dalam sebuah sekolah inklusi adalah menjadi penyemangat, pendorong, atau fasilitator sejawat bagi para siswa berkebutuhan khusus. Memberi semangat bahwa bukan berarti kemampuan siswa berkebutuhan khusus ada dibawah siswa dalam kondisi normal, bisa jadi setara, atau bahkan jauh melebihi mereka yang normal. Menjadi pendorong ketika siswa berkebutuhan khusus merasa putus asa atau rendah diri, sehingga timbul keinginan dalam menggapai impian. Ketika dalam pelajaran ada yang kurang dimengerti oleh siswa dengan kebutuhan khusus, maka teman-teman yang ada di sekitarnya membantu memfasilitasi agar merekapun dapat menangkap apa yang disampaikan dalam materi pelajaran.

Atas dasar itulah dalam sebuah sekolah inklusi, dapat dibentuk agen membelajar yang diambil dari beberapa siswa dan bertugas membantu siswa berkebutuhan khusus sehingga dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Sekaligus memberikan penyadaran kepada para siswa lain untuk senantiasa membantu dan menghargai mereka.

Pembahasan

Siswa normal dalam sebuah sekolah inklusi perlu dipersiapkan agar dapat memposisikan diri dan menerima kehadiran siswa berkebutuhan khusus. Sangat penting memberikan wawasan serta pengertian tentang pendidikan inklusif dan pemahaman tentang siswa berkebutuhan khusus agar mereka mempunyai kesiapan mental untuk menyambut kehadiran siswa dengan kebutuhan khusus sekaligus menjadi partner dalam kegiatan di sekolah. Beberapa penelitian dan kasus yang tersorot di media, menunjukkan bahwa seringkali siswa normal kurang bisa menerima kehadiran siswa berkebutuhan khusus, sehingga mereka kedapatan melakukan bullying terhadap temannya dengan kebutuhan khusus. Untuk itulah diperlukan usaha untuk memberikan pemahaman tentang membangun empati dan bekerjasama dalam kegiatan di sekolah. Dengan timbulnya pemahaman terhadap siswa berkebutuhan khusus maka siswa non berkebutuhan khusus diharapkan menjadi teman sebaya yang dapat membimbing dan membantu mereka dalam pembelajaran.

Siswa Berkebutuhan Khusus menurut Santrock dalam Ni’matuzahroh & Nurhamida (2016: 1) adalah mereka yang mempunyai keterbatasan dalam fungsi kognitif, fisik maupun emosi yang menghalangi kemampuan individu untuk berkembang dengan baik yang terklasifikasi dalam kesulitan belajar, ADHD, retardasi mental, gangguan fisik, sensoris, gangguan bicara dan bahasa, antusiasme maupun gangguan emosi dan perilaku. Dari penjelasan tersebut, dapat dikatakan bahwa mereka sangat rentan menerima bullying, yaitu tindakan menyakiti berupa kekerasan secara fisik, verbal, maupun psikis yang dilakukan secara terencana oleh pihak yang lebih memiliki kuasa terhadap pihak yang lebih lemah. Sebuah sekolah inklusif harus mampu mencegah terjadinya bullying kepada para siswa berkebutuhan khusus.

Tidak semua anak berkebutuhan khusus dapat memasuki sekolah inklusif, anak dengan tingkat kecacatan tinggi, yang disetiap melakukan sesuatu harus dibantu dan dibimbing orang lain, sampai dengan tingkatan tertentu, memang tidak dapat disatukan dengan anak-anak yang normal di sebuah sekolah reguler. Anak tersebut harus dimasukkan kedalam sekolah segresi atau SLB (Sekolah Luar Biasa). Misalnya mereka yang memiliki tunanetra, tunawicara, tunarungu, tunadaksa, tunalaras atau tunagrahita. Konsep sekolah seperti ini terpisah dari sekolah reguler, mulai dengan kurikulum, tenaga pendidik, sarana prasarana, sampai sistem belajar dan evaluasinya tidak dapat disamakan.

Sebuah sekolah inklusi notabene harus ideal bagi siswa dengan kebutuhan khusus atau siswa normal. Disisi lain, siswa dengan kebutuhan khusus sangat terbantu dengan kondisi lingkungan yang diciptakan oleh sekolah, mereka dapat belajar berinteraksi dengan teman-teman sebaya khususnya aspek sosial dan emosional. Dan bagi siswa normal dapat belajar untuk berempati, bersikap membantu dan memiliki kepedulian. Tetapi perlu digarisbawahi bahwa sekolah inklusif tidak hanya sebatas mencampur siswa berkebutuhan khusus dengan siswa tanpa berkebutuhan khusus melainkan juga menyiapkan prosedur dan sistem pembelajaran khusus untuk mereka. (Thomas dan Hanlon dalam Ni’matuzahroh & Nurhamida, 2016: 50).

Sekolah inklusi harus menggandeng semua warga sekolah mulai dari guru, siswa normal, karyawan untuk bersinergi memberikan suasana nyaman bagi para siswa berkebutuhan khusus. Hanya guru yang punya peringai sabar, teliti, rajin dan cerdas yang dapat mengatasi mereka. Siswa normal yang kelasnya dimasuki oleh siswa berkebutuhan khusus haruslah sabar dan tidak menertawakan/meremahkan kawannya tersebut. Mereka menjadikan kawannya itu sebagai teman bersosialisasi yang baik. Menurut Suyanto & Mudjito (2014: 12) ada banyak kasus, anak-anak yang semula menghadapi problem atau kelainan itu, justru lama-lama menjadi normal kembali, karena setiap hari berhubungan dengan anak normal. Siswa normal yang mau menghargai perbedaan, mau menerima dan memhami keberagaman seperti itu juga sangat positif untuk mengisi pendidikan mental para siswa berkebutuhan khusus.

Guru punya andil besar dalam keberhasilan pembelajaran di sekolah inklusif, guru-guru yang ada haruslah punya kesabaran ekstra dan tentu punya pengetahuan tentang pendidikan inklusif. Dalam pembelajaran, gurulah yang memegang kendali utama dalam mendorong, membimbing para siswa berkebutuhan khusus agar dapat mencapai tujuan. Sebagai salahsatu penentu keberhasilan pembelajaran di kelas, yang bertugas membimbing dan mengarahkan siswa, guru inklusif dituntut lebih kreatif dan kompetitif dalam mengelola kelas yang berisikan siswa berkebutuhan khusus maupun tanpa kebutuhan khusus. Tetapi dalam sebuah kelas inklusif guru harus menghindari single fighter dalam mengelola semua kelas dan melayani siswa siswa berkebutuhan khusus. Guru selayaknya mengelola kelas seperti seorang manager, mampu memanfaatkan semua potensi yang ada didalam kelas untuk mendukung mencapai tujuannya. Tugas-tugas guru dalam mengajari dan membantu para siswa berkebutuhan khusus dapat dibantu oleh para siswa yang lain.

Dalam beberapa kasus Interaksi atau kedekatan antara guru dan siswa berkebutuhan khusus dalam sebuah sekolah inklusi terkadang tidak selama intensitas interaksi antara siswa berkebutuhan khusus dengan siswa yang lain dalam satu kelas. Ada beberapa aspek yang mungkin akan sulit dijangkau oleh guru, karena perbedaan usia atau perbedaan posisi sebagai guru dan siswa, etapi akan lebih mudah dijangkau oleh teman-teman yang sebaya dikarenakan faktor usia yang sepadan. Untuk menjembatani hal tersebut dapat dimungkinkan membentuk agen membelajar, yang terdiri dari siswa pilihan dengan tugas membantu menjembatani siswa berkebutuhan khusus dan siswa normal. Agen membelajar juga dapat menjadi kepanjangan tangan guru dalam proses pembelajaran dengan menjadi tutor sebaya, menjaga mereka dalam kegaiatan keseharian di sekolah. Guru pun tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang memikul tanggungjawab untuk mendidik siswa berkebutuhan khusus, karena akan terbantu dengan para agen membelajar dalam kegiatan di sekolah. Karena dalam menciptakan lingkungan nyaman untuk pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus bukan hanya tugas para guru saja, tetapi semua warga sekolah, terlebih lagi para siswa normal.

Guru dapat merekrut agen membelajar berdasarkan latar belakang potensi yang dimiliki oleh para siswa normal didalam kelas. Bagi siswa yang mempunyai kecerdasan matematis kuat maka dia dapat membantu mereka dalam mendukung, memberi semangat dan belajar matematika. Yang punya kecerdasan linguistik menonjol dapat membantu dalam hal pelajaran bahasa. Ketika belajar yang berhubungan dengan seni rupa maka akan dibantu oleh agen membelajar yang punya kecenderungan kecerdasan visual spasial. Atau siswa yang menurut guru lebih dominan kecerdasan interpersonalnya, dapat membantu para siswa berkebutuhan khusus dalam berinteraksi dengan orang lain. Adanya agen pembelajar di sisi siswa berkebutuhan khusus juga akan memudahkan guru untuk memantau perkembangan mereka. Data yang diambil tidak selalu digali dari siswaberkebutuhan khusus saja, tetapi juga dari para agen membelajar dan tentunya akan semakin memperkuat objektifitas data tersebut.

Agen membelajar yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah siswa normal, yang perekrutannya disesuaikan dengan latar belakang/karakter para siswa berkebutuhan khusus yang ada didalam kelas tersebut. Siswa yang menjadi seorang agen membelajar juga harus punya rasa emphati dan simpati serta kepedulian tinggi. Hubungan antara guru, agen membelajar dan siswa berkebutuhan khusus dalam suatu kelas, dapat dianalogikan seperti sebuah tim sepak bola. Seorang striker/penyerang yang menjadi pusat perhatian dalam sebuah tim sepak bola, tanpa rekan satu tim yang memberikan umpan, menjaga dari tekling pemain musuh, pemain bertahan, atau pelatih yang menentukan strategi maka akan sulit bagi dia untuk menciptakan gol. Sama halnya ketika sebuah kelas inklusi melakukan pembelajaran sebagai sebuah tim, maka tujuan dari dibuatnya kelas inklusi akan dapat dengan mudah tercapai.

Para agen membelajar juga dapat mencegah terjadinya bullying, mengejek, mengusili, atau kekerasan fisik kepada para siswa berkebutuhan khusus. Mereka juga akan menjadi bodyguard atau penegak disiplin dengan cara mengingatkan kepada teman-temannya yang lain jika ada perlakukan yang kurang pantas kepada siswa berkebutuhan khusus. Dengan terus menciptakan suasana yang kondusif bagi para siswa berkebutuhan khusus untuk belajar dan berinteraksi sosial, terus mengingatkan bila terjadi perlakuan yang tidak pantas dari siswa lain maka akan tercipta pembiasaan di sekolah tentang bagaimana seharusnya memperlakukan mereka.

Agen membelajar dapat mendukung terciptanya suasana sekolah inklusif yang ideal. Sebuah sekolah inklusif tentu memerlukan cara efektif menciptakan pembiasaan para siswa dalam memperlakukan siswa berkebutuhan khusus. Dengan seringnya agen membelajar dalam membantu, memberi semangat, dan memperlakukan siswa berkebutuhan khusus dengan baik, hal tersebut akan menjadi teladan bagi para siswa yang lain. Para agen membelajar dibekali cara yang tepat untuk memperlakukan mereka, sehingga dapat ditiru oleh siswa normal yang lain. Tentu tujuan akhirnya agar keteladanan agen membelajar menjadi virus positif dalam membina hubungan baik antara siswa berkebutuhan khusus dan yang tidak berkebutuhan khusus.

Ketika semua siswa normal menjadi agen membelajar bagi siswa dengan kebutuhan khusus. Yang terjadi adalah meningkatnya keterampilan sosial siswa berkebutuhan khusus, meningkatnya gambaran diri siswa berkebutuhan khusus menjadi lebih baik, lebih sering berinteraksi dengan teman sebayanya yang tidak berkebutuhan khusus. Manfaat ini dapat dicapai jika siswa berkebutuhan khusus bisa menerima dan memahami keadaan dirinya dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, serta jika instruksi dan materi pelajaran disesuaikan dengan kebutuhan khusus mereka. Siswa normal pun dapat memperoleh manfaat dari pendidikan inklusif dalam hal tumbuhnya kesadaran mengenai hakekat perbedaan manusia yang heterogen dan tumbuhnya kesadaran bahwa siswa berkebutuhan khusus memiliki banyak kesamaan dengan mereka (Hunts & Goets; Staub, dalam Omrod, 2009).

Kesimpulan

Guru pada sekolah inklusif tidak harus menempatkan diri sebagai satu-satunya elemen yang punya tanggungjawab untuk membimbing siswa berkebutuhan khusus. Kesadaran untuk membantu dan berempati kepada mereka dapat dilakukan oleh para agen membelajar, yang terdiri dari siswa-siswa pilihan dan bertugas membantu menjembatani mereka dengan para siswa lain, menjadi kepanjangan tangan guru dalam proses pembelajaran dengan menjadi tutor sebaya, menjaga mereka dalam kegiatan keseharian di sekolah. Dengan adanya agen membelajar juga akan mengurangi potensi terjadinya bullying terhadap siswa berkebutuhan khusus. Tugas para agen adalah menunjukkan keteladanan dan secara terus menerus menjaga pembiasaan akan pentingnya menghargai para siswa berkebutuhan khusus. Harapannya akan tersebar virus positif dalam membina hubungan baik antara siswa berkebutuhan khusus dan siswa normal. Terciptanya sinergi yang baik antara seluruh warga sekolah inklusif akan memberikan suasana nyaman bagi para siswa berkebutuhan khusus untuk menemukan dan mengembangkan potensi mereka. Untuk belajar berinteraksi dengan teman-teman sebaya dalam meningkatkan kepekaan sosial dan emosional mereka. Dan bagi siswa normal dapat belajar untuk berempati, bersikap membantu dan memiliki kepedulian.

 

Daftar Pustaka

Ni’matuzahroh & Nurhamida, Yuni. (2016). Individu Berkebutuhan Khusus dan Pendidikan Inklusif. Malang: UMM Press.

Suyanto & Mudjito. (2014). Masa Depan Pendidikan Inklusif. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Omrod, J.E. (2009). Psikologi Pendidikan. Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang. Jakarta: Erlangga.

135 (Total Dilihat) 1 (Dilihat Hari Ini)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *