DILEMA GURU ZAMAN NOW

13 November 2017
Comments: 0
13 November 2017, Comments: 0

Oleh Zakki Fitroni, M.Pd.

Guru mempunyai tugas yang mulia dalam dunia pendidikan, membuat seorang anak manusia menjadi lebih baik dalam segala hal baik segi akhlaq, intelegensi, atau kedisiplinan. Dari guru jugalah manusia-manusia terbaik dihasilkan, seorang ilmuwan, dokter, dosen, walikota, bahkan presiden pun tidak terlepas dari sentuhan para “pahlawan tanpa tanda jasa”. Bahkan jika dilakukan dengan niatan ibadah bukan tidak mungkin profesi sebagai guru/pendidik dapat mengantarkan seseorang kepada surga. Seperti sabda nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa salahsatu dari tiga amalan yang tidak akan terputus walaupun seseorang meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat.

Memilih profesi untuk menjadi seorang guru memang bukan pilihan mudah di negeri ini. Selain gaji yang pas-pasan jika dibandingkan profesi serupa dinegara lain, sekarang tuntutannya tidak hanya mengajar tetapi juga membuat perangkat pendukung pembelajaran atau penelitian untuk mendapatkan cap guru profesional.

Memang semua regulasi pemerintah yang ditujukan bagi para guru, bertujuan untuk menghasilkan para pendidik yang terbaik. Sehingga guru sebagai ujung tombak pendidikan bisa menghasilkan generasi penerus bangsa yang baik pula, dan harapannya kedepan bangsa ini menjadi bangsa yang sangat maju dalam berbagai aspek.

Pemerintah tentu juga tidak boleh melupakan bahwa untuk meningkatkan pendidikan menjadi lebih baik, bukan hanya terfokus pada peningkatan keterampilan guru. Infrastruktur pendidikanpun harus terus ditingkatkan, masyarakat harus terus disadarkan tentang pentingnya pendidikan, dan tidak lupa memperhatikan penghargaan dan perlindungan kepada para guru. Karena di jaman sekarang tuntutan untuk mencerdaskan dan mendisiplinkan siswa terkadang menjadi sebuah dilema, disisi lain menjadi sebuah kewajiban tetapi jika cara mendisiplinkan tidak sesuai dengan selera murid atau orang tua maka kemungkinan terburuk dapat berakhir di jeruji penjara.

Masyarakat

Objek dari sebuah pendidikan dalam suatu negara adalah mencerdaskan masyarakat yang ada didalamnya, dan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya mengenyam bangku sekolah tentunya harus ada kampanye yang masif untuk menyadarkan mereka. Kurangnya kesadaran untuk berpartisipasi aktif dalam ikut memajukan pendidikan akan membuat pendidikan menjadi pincang, mengingat waktu yang dihabiskan oleh siswa untuk belajar di sekolah tentu sangat terbatas. Dan sisa waktu di rumah bersama keluarga selayaknya dapat digunakan untuk mendukung kegiatan pendidikan yang mereka tempuh.

Pada beberapa kasus mungkin ada orang tua yang acuh tak acuh kepada proses belajar anak di sekolah, mereka menganggap bahwa untuk membuat anaknya mempunyai kecakapan hidup semata-mata merupakan urusan guru dan sekolah. Kalau sudah seperti ini maka komunikasi antara sekolah/guru dengan para orang tua akan berjalan satu arah. Terjadinya miskomunikasi antara guru dan orang tua siswa seringkali menjadi akar permasalahan timbulnya polemik dalam pendidikan. Ketika guru berusaha secara maksimal untuk membuat para siswa nya menjadi lebih baik, dan para orang tua disibukkan dengan urusannya tanpa perhatian yang cukup kepada anaknya. Ada kemungkinan sang anak akan mencari perhatian, dengan cara mencari perhatian di sekolah dengan cara-cara negatif.

Guru sebagai sebuah profesi tentu menuntut kesabaran yang ekstra dalam menangani berbagai karakter siswa. Terkadang prilaku-perilaku negatif dan kurangnya etika siswa mengharuskan Guru untuk memberikan hukuman yang mempunyai efek jera, hukuman sewajarnya dengan tujuan mendidik siswa menjadi lebih baik, tentunya hukuman yang didasarkan rasa kasih sayang guru sebagai orang tua kedua kepada anaknya didiknya.

Perlindungan Guru

Sekarang di berbagai media sering kita temui kasus kriminalisasi guru, karena siswa dan orang tuanya melakukan reaksi yang berlebihan pada pemberian sanksi yang diberikan guru. Entah karena arogansi orang tua, kurangnya kesadaran siswa dalam menerima konsekuensi dari kesalahan yang mereka buat, ataukah dipicu trend bahwa guru dapat dengan mudah dikriminalisasi oleh siswa dan orang tuanya. Dengan mengatasnamakan HAM (Hak Asasi Manusia) dan dengan mudah menuduhnya sebagai pelaku penganiayaan, mereka tidak segan-segan melaporkan sang pahlawan tanpa tanda jasa kepada pihak yang berwajib. Seakan menafikkan keikhlasan, kasih sayang dan kegigihan sang guru dalam mendidik siswanya, kesalahan kecil tersebut bisa berujung rusaknya nama baik guru di hadapan masyarakat dan yang terburuk adalah dijebloskannya guru kedalam penjara.

Banyaknya kasus kriminalisasi terhadap guru memang membuat pemerintah turun tangan dengan membuat sebuah undang-undang perlindungan guru. UU nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen sudah mengatur tentang perlindungan guru dalam melaksanakan tugasnya. Pasal 39 UU No 14 tahun 2005 menegaskan bahwa pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi profesi, dan/atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas. Perlindungan terhadap guru tersebut meliputi perlundungan hukum, perlindungan profesi, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.

Pelaksanaan Undang Undang terebut pada tingkatan akar rumput perlu dibarengi sosialisasi yang efektif kepada para pemangku kepentingan. Jangan sampai niatan baik yang dilakukan pemerintah tidak dapat menjangkau kasus-kasus kriminalisasi guru di daerah-daerah. Misalnya ketika terjadi kasus laporan penganiayaan guru terhadap siswanya oleh walimurid, maka pemerintah dalam hal ini dinas pendidikan, sekolah, atau bahkan kepolisian harus segera melakukan klarifikasi dan investigasi untuk mengetahui akar masalahnya. Para stake holder harus faham dan menggunakan nuraninya dalam menghadapi kasus-kasus seperti ini, mana yang bisa dikategorikan penganiayaan guru kepada siswa atau tindakan untuk mendisiplinkan.

Kesadaran siswa, orang tua, masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk berpartisipasi aktif dalam dunia pendidikan sangat diperlukan, untuk dapat menghasilkan pendidikan yang berkualitas, yaitu pendidikan yang dapat mengantarkan generasi penerus bangsa menjadi generasi emas. Guru sadar akan tugas beratnya untuk membimbing siswa dalam hal akademik atau akhlaq, siswa sadar akan tugasnya dalam menuntut ilmu yang artinya harus mamatuhi segala peraturan yang mengiringinya, orang tua dan masyarakat sadar dalam dunia pendidikan tugas mereka adalah membuat suasana yang kondusif dalam dunia pendidikan dalam konteks luas.

Pada akhirnya tujuan pendidikan nasional dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantab dan mandiri serta rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaaan.

905 (Total Dilihat) 3 (Dilihat Hari Ini)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *