DIAGNOSA TEPAT UNTUK PEMBELAJARAN EFEKTIF

12 September 2017
Comments: 0
12 September 2017, Comments: 0

DIAGNOSA TEPAT UNTUK PEMBELAJARAN EFEKTIF

Oleh *Zakki Fitroni, M.Pd.

Usia Sekolah Dasar, merupakan masa yang menentukan bagaimana seorang anak akan tumbuh, hidup, berkembang dan berkreasi dalam menjalani kehidupannya. Masa yang terjadi hanya sekali dalam kehidupan dan mempunyai dampak luar biasa ketika mereka beranjak dewasa. Keluguan anak dan rasa keingintahuan yang besar menjadikan mereka ingin mencoba dan belajar segala hal. Seringkali juga masih belum dapat menyadari atau memilih kecenderungan belajar yang mereka sukai. Pada masa tersebut guru memainkan peran yang sangat penting untuk mengawal proses pendidikan anak, sebagai momentum pijakan pembentukan sumber daya manusia yang bermutu.

Guru dapat dikatakan sebagai salah satu gerbang anak untuk memperoleh pengetahuan, membangun keahlian serta membangun karakteristik sebagai bekal mereka menuju kedewasaan. Untuk menjalankan peran tersebut, guru dituntut seperti halnya seorang pelatih sepak bola yang dituntut mampu mendiagnosa potensi dan kemampuan para pemainnya. Sehingga dapat dijadikan bahan acuan untuk menyusun strategi atau menempatkan setiap pemain menjadi striker, gelandang, atau kiper.

Memahami siswa dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satunya dengan menggunakan sebuah teori yang dikemukakan oleh Howard Gardner tentang multiple intelligences yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai kecerdasan majemuk atau kecerdasan ganda. Pemberian label “multiple” oleh Gardner merupakan langkah yang sangat tepat mengingat luasnya makna kecerdasan. penggunaan label tersebut dimaksudkan akan adanya kemungkinan bahwa ranah kecerdasan bisa terus berkembang, mulai dari 6 jenis kecerdasan ketika teori ini ditemukan dan kemudian berkembang menjadi 9 kecerdasan. Tetapi secara umum Gardner (2013:36) hanya mematenkan 8 kecerdasan karena kecerdasan eksistensial masih menggantung karena belum ada data empiris yang mendukungnya. Teori ini memudahkan seorang guru untuk mengetahui dan mengklasifikasikan kecenderungan kecerdasan setiap siswanya.

Jenis kecerdasan yang dikembangkan oleh Gardner adalah kecerdasan linguistik (linguistik intelligence), kecerdasan logis matematis (logical mathemathical intelligence), kecerdasan spasial (visual spatial intelligence), kecerdasan kinestetik jasmani (body kinesthetic intelligence), kecerdasan musikal (musical intelligence), kecerdasan antar pribadi (interpersonal intelligence), kecerdasan intrapribadi (intrapersonal intelligence), kecerdasan naturalis (naturalist intelligence), kecerdasan eksistensial (existential intelligence). Dan kemungkinan akan terus berkembang seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan dunia pendidikan.

Mengetahui kecenderungan kecerdasan setiap siswa memang tidak mudah, terkadang kemampuan yang mewakili kecenderungan kecerdasan tertentu ditunjukkan secara samar. Tetapi salahsatu hal yang merupakan nilai tambah bagi seorang guru Sekolah Dasar adalah tugas mereka sebagai guru kelas. Dengan intensitas bertemu siswa dalam satu kelas yang cukup banyak, membuat eksplorasi kemampuan dan kecenderungan kecerdasan siswa dapat dilakukan secara mendalam dan diharapkan guru dapat mengetahui sedini mungkin kecenderungan belajar siswa.

Seorang siswa dimungkinkan untuk memiliki sembilan jenis kecerdasan tentu dalam tingkat yang berbeda-beda, atau hanya memiliki beberapa kecenderungan kecerdasan. Siswa yang memiliki kecenderungan kecerdasan tertentu, tidak selalu menunjukkan kemampuan tersebut dalam setiap aspek hidupnya. Di dalam proses pembelajaran di sekolah atau tingkah laku sehari-hari, kecerdasan itu dapat muncul bersama-sama atau berurutan dalam sebuah aktivitas.

Kesembilan jenis kecerdasan dalam teori multiple intelligences boleh jadi tidak nampak dalam diri seseorang atau susah diamati. Ketidaknampakan tersebut, dapat disebabkan mereka belum menunjukkan potensi atau kemampuan yang dimilikinya. Karena setiap siswa memiliki kemampuan yang unik dengan tingkat perkembangan yang berbeda. Sehingga lingkungan sekolah khususnya guru dan lingkungan keluarga seperti orang tua merupakan unsur penting dalam membantu siswa menunjukkan dan mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Dalam memetakan kecenderungan kecerdasan setiap siswa, tentu harus dilakukan secara berkala dan dinamis mengingat kecenderungan kecerdasan setiap siswa juga akan berkembang seiring pertumbuhannya. Pekerjaan guru untuk menentukan kecenderungan belajar siswa juga harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Sama halnya seperti seorang dokter dalam melakukan diagnosa penyakit pasiennya, akan berdampak fatal jika ada kesalahan karena langkah awal ini akan menentukan langkah-langkah berikutnya dalam proses pembelajaran.

Gaya belajar

Setelah memetakan kecenderungan kecerdasan siswa, langkah berikutnya adalah menggunakan data tersebut sebagai pijakan untuk mengetahui gaya belajar siswa. Karakteristik pada kecenderungan kecerdasan siswa dapat dihubungkan dengan gaya belajar mereka. Langkah tersebut diambil berdasarkan penelitian Howard Gardner sebagai penemu teori multiple intelligences bahwa gaya belajar siswa tercermin dari kecenderungan kecerdasan yang dimiliki oleh siswa tersebut (Chatib, 2009: 100).

Gaya belajar dibagi menjadi tiga; pertama adalah siswa dengan gaya belajar visual, yang mudah mempelajari bahan pelajaran yang dapat dilihat dengan indera pengelihatan. lebih suka melihat ilustrasi, membaca instruksi, mengamati gambar sehingga mereka lebih cepat mempelajari materi yang disajikan secara tertulis, bagan, grafik atau gambar; kedua adalah siswa dengan gaya belajar auditori, yang dapat mudah menangkap pembelajaran dengan indera pendengarannya yang disajikan dalam bentuk suara, lebih suka belajar dengan cara ceramah, berdialog atau berdiskusi; ketiga adalah siswa dengan gaya belajar kinestetik, yang mengutamakan indera perasa dan gerakan-gerakan fisik. Lebih menangkap materi pembelajaran apabila ia bergerak, meraba, dengan praktik atau pengalaman belajar secara langsung.

Kecenderungan kecerdasan yang dimiliki siswa punya ciri-ciri yang menyertainya, hal itulah yang dapat dihubungkan guru dengan gaya belajar siswa. Misalkan, siswa yang punya kecerdasan visual spasial dengan menonjolkan kemampuan menggambar, lebih condong kepada gaya belajar visual yang dapat dengan mudah memahami materi pembelajaran menggunakan indera pengelihatannya. Contoh lainnya, siswa yang mempunyai kecerdasan kinestetik yang ditunjukkan dengan kemampuan pandai menari dan menggunakan bahasa tubuh. Lebih condong kepada materi belajar kinestetik yang mengutamakan indera perasa dengan praktik atau pengalaman belajar secara langsung.

Memadukan antara karakter kecenderungan kecerdasan dengan gaya belajar, memang menuntut guru untuk menguasai teori multiple intelligences dan gaya belajar siswa. Juga menuntut kejelian guru dalam melihat persamaan antara dua hal tersebut. Ada pendapat yang mengatakan bahwa “bisa karena biasa” atau “repetition is the mother of all skills” sehingga untuk punya kepekaan dan kemampuan dalam melihat gaya belajar siswa, guru harus melakukan proses tersebut secara berulang-ulang dan periodik.

Model pembelajaran

Kecenderungan kecerdasan dan gaya belajar tiap siswa tentu akan berbeda. Dari data yang sudah didapatkan guru tentang gaya belajar siswa, maka langkah selanjutnya adalah menentukan model pembelajaran di kelas. Tujuannya agar guru dapat menangani kebutuhan belajar dari setiap siswa, dan menangani pembelajaran secara keseluruhan di kelas. Kalau pada langkah sebelumnya guru fokus pada kondisi siswa, maka pada model pembelajaran lebih fokus pada bagaimana guru mengkondisikan pembelajaran kepada siswa di kelas.

Model pembelajaran merupakan sebuah kerangka konseptual berupa prosedur yang sistematik dan mengorganisasikan pengalaman belajar siswa dalam mencapai tujuan belajar tertentu yang fungsinya sebagai pedoman guru dalam pembelajaran (Sagala, 2010:176). Seorang guru bisa memilih dari sekian banyak model pembelajaran yang ada, tentu dipilih berdasarkan yang terbaik. Baik tidaknya suatu model pembelajaran yang akan digunakan terletak pada ketepatan memilih suatu model sesuai dengan tuntutan proses pembelajaran. Model apapun yang dipilih harus memperhatikan efektifitas antara karakteristik model pembelajaran dengan kondisi pembelajaran siswa.

Ketika guru mendapatkan data bahwa sebagian besar siswa di kelas mempunyai kecenderungan kecerdasan visual spasial dan gaya belajar visual, maka guru dapat menentukan model cooperative learning tipe picture and picture untuk diaplikasikan pada pembelajaran kelas. Karena pada model pembelajaran tersebut, guru menggunakan alat bantu atau media gambar dalam menjelaskan materi pembelajaran atau memfasilitasi siswa untuk aktif belajar. Dalam kasus tersebut penggunaan media gambar akan lebih mudah diterima karena sesuai dengan kebutuhan belajar pada siswa dengan gaya belajar visual.

Menciptakan sebuah proses pembelajaran yang efektif di Sekolah Dasar, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh seorang guru. Ada langkah yang berpusat pada siswa dalam artian menggali seluruh potensi dan kemampuan siswa dengan maksimal, juga terdapat langkah yang menuntut keterampilan guru dalam mengkondisikan pembelajaran melalui pemilihan model pembelajaran yang tepat. Langkah pertama memetakan bagaimana kecenderungan kecerdasan siswa dengan teori Gardner tentang multiple intelligences, penggunaan teori tersebut dikarenakan dalam sebuah kelas terdapat siswa dari latar belakang kecerdasan yang heterogen; kedua menentukan gaya belajar siswa dengan mengacu pada hasil pemetaan kecenderungan kecerdasan siswa, karakter siswa yang heterogen tentu gaya belajarnya juga tidak hanya dengan satu cara, bisa secara auditori, visual, atau kinestetik; ketiga, menentukan model pembelajaran yang baik bagi siswa dengan memperhatikan efektifitas antara karakteristik model pembelajaran dengan kondisi kecenderungan kecerdasan serta gaya belajar siswa.

Langkah-langkah tersebut dapat meminimalkan proses trial and error seorang guru dalam melakukan proses pembelajaran. Karena jika guru masih dalam tahap mencoba dan ternyata hasilnya tidak sesuai yang diharapkan, maka dapat dipastikan yang menjadi korban adalah siswa. Dengan teori multiple intelligences dan gaya belajar siswa guru dapat melakukan diagnosa kebutuhan siswa dengan tepat sebagai acuan untuk menentukan model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar siswa, sehingga proses pembelajaran bisa berjalan secara efektif.

Daftar Pustaka
Gardner, Howard. (2013). Multiple Intelligences: Memaksimalkan Potensi &Kecerdasan Individu dari Masa Kanak-Kanak Hingga Dewasa. Jakarta: Daras Books.
Sagala, Syaiful. (2010). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Chatib, Munif. (2009). Sekolahnya Manusia: Sekolah Berbasis Multiple Intelligence di Indonesia. Bandung: Kaifa.

550 (Total Dilihat) 1 (Dilihat Hari Ini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *